Segala sesuatu yang dilakukan oleh yang namanya Insan atau dalam keterangan ayat disebut sebagai Nas, maka pastilah hal yang dilakukan itu masih dalam kerangka perkara, bilamana dikatakan perkara, bila telah diamalkan kata apa yang keluar dari dalam diri berupa suara hati tapi belum dapat di wujudkan makna kebenarannya. Maka oleh karena itu, dalam perkara yang dihadapi oleh tiap-tiap diri insan di bawah kolong langit ini Tuhan menuntun kepada setiap diri untuk mandiri, bentuknya adalah insan diminta untuk mempertimbangkan segala sesuatu itu dengan dipimpin oleh hati, kenapa hati, karena dihati itulah kebenaran di tanamkan oleh Tuhan. Namun kebenaran tidak mutlak menjadi kebenaran manakalah dia berselimut oleh hawa nafsu dunia setan (dikatakan berperkara) sehingga dengan adanya pertimbangan hati yang ada di dalam dada itulah nanti tiap-tiap diri akan diminta pertanggung jawaban. Kiranya relevan bila saya mengutip Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 4789 Rasulullah ...
Comments
Post a Comment