Seruan Perdamaian 8 April 2014
oleh .
Dr. H. Aswin Rose Yusuf
Tulisan ini telah disampaikan
kehadapan His
Holiness Pope Francis di Vatikan dalam bahasa Inggris, dalam The General
Audience pada tanggal 14 Juni 2014.
Perdamaian wajib diwujudkan bagi setiap manusia dimanapun
ada beradanya. Sebelum berbicara tentang perdamaian, terlebih dulu diketahui
substansi atau perwujudan dari perdamaian itu sendiri, kemudian dari mana
memulainya; bagaimana mewujudkan dan apa yang menyebabkan tidak terwujudnya
perdamaian tersebut.
Seyogyanya-lah dimulai dengan mengenal dan mengetahui apa
yang disebut dengan "SUARA HATI" (VOICE OF THE HEART) dan tentu akan
dapat diketahui dan dipahami oleh manusia dimanapun.
Suara hati dapat dirasakan dan diketahui oleh setiap Insan
karena Tuhan telah memberikan ZAT atau RASA atau NIKMAT bersamaan disempurnakan
kejadian Manusia dengan meniupkan RUH kepadanya.
Setiap Insan atau manusia melalui suara hati akan dapat
merasakan sehingga dapat mengenal, mengetahui dan mendengar adanya suara hati;
yang menyeru kepada kebajikan dan yang menyeru kepada kejahatan. Bila kedua
suara hati ini sepenuhnya dapat disadari oleh setiap manusia, maka secara
perlahan perdamaian dapat diwujudkan.
Kenapa manusia senantiasa terburu-buru, tergesa-gesa dalam
menyikapi sesuatu, baik mengungkapkannya melalui perkataan ataupun perbuatan?
Maka suara hati akan menjadi penentu semua itu.
Bila setiap manusia memulai sesuatu dengan tidak menyadari
suara hati, maka sifat terburu-buru selalu menguasai dalam menyikapi sesuatu;
yang berdampak kepada perpecahan yang dimulai dengan rasa curiga,
syakwa-sangka, sifat tidak mau kalah, tidak mau disalahkan, tidak mau
kerendahan, sehingga menimbulkan sikap emosional, tidak lagi mau menerima
kebenaran dari siapapun.
Oleh sebab itu, semua bermuara dari suara hati. Bila kita
senantiasa memulai sesuatu dengan suara hati yang menyeru kepada kejahatan,
maka perdamaian tidak akan pernah terwujud; tapi bila sesuatu yang akan
diperbuat itu dimulai dengan suara hati yang menyeru kepada kebajikan, maka
sudah barang tentu secara perlahan perdamaian itu akan terwujud dengan nyata.
Pandangan ini disampaikan sebagai bahan pertimbangan bahwa
perdamaian itu tidak akan terwujud bila belum menyadari dan belum mengetahui
apa penyebab tidak terwujudnya perdamaian tersebut.
Berbagai nasehat telah diberikan,
segala petunjuk telah disampaikan, namun perdamaian tetap
belum terwujud; hal ini disebabkan belum menyentuh substansi penyebabnya dan
belum memberikan solusi secara komprehensif terhadap perdamaian itu sendiri.
Insan atau manusia dijadikan Tuhan dari berbagai suku bangsa
yang tidak membedakan bangsanya-berlainan bahasa, berdusun-dusun,
bermacam-macam umat untuk saling kenal-mengenal satu sama lain; bukan untuk
saling membenci dan bermusuhan.
Bila direnungkan, suara hati yang menyeru kepada kejahatan
tersebut, tidak dapat diketahui bila Allah belum menyempurnakan kejadian
manusia dengan meniupkan Ruh kepadanya. Ruh ini Kudus-Suci; sifatnya
sidiq-amanah-tabliq-fatanah; Dia adalah Nur atau Cahaya.
Mulut berkata TIDAK, DIA barkata benar. Mulut berdusta
"DIA TAU". Diam-diam kita IRI, DENGKI, BENCI kepada orang lain,
"DIA TAHU".
Pokoknya sesuatu yang tidak benar kita ucapkan atau kita
rasakan, seperti; PEMBOHONG, PENDUSTA, BENCI, CINTA DIAM-DIAM, pasti DIA TAHU.
Artinya : Segala sesuatu yang TIDAK BENAR, DIA PASTI TAHU.
Silahkan, untuk dirasakan hal demikian melalui SUARA HATI. DIA sama sekali
TIDAK DAPAT DIBOHONGI.
"DIA datang dari Allah, akan kembali kepada
Allah"; itulah yang dinamakan ROHANIAH pada setiap manusia.
Bagi seluruh umat manusia yang tidak dapat membedakan bangsa
dan bahasanya. DISEBUT SUARA HATI. Dia tidak laki-laki, tidak perempuan. Yang
laki-laki perempuan itu, MANUSIA.
Oleh karena itu Tuhan, melalui agama yang dibawa oleh
masing-masing para Aulia-Ambiya dengan bahasa kaumnya membicarakan tentang diri
manusia, khusus suara hati tadi secara komprehensif, tapi sayang manusia
melihatnya secara subyektif melalui nalar Idea yang menghasilkan Idiologi,
berdampak perpecahan, menimbulkan berbagai aliran dalam agama. Kepintaranlah
yang ditonjolkan guna mencari kebenaran, ingin ikut serta menyelesaikan
perilaku manusia yang bercorak ragam tersebut, yang menimbulkan perdebatan serta
perbantahan yang tiada akhirnya.
Manusia dijadikan Tuhan dengan
perantara seorangp laki-laki dan perempuan, dicetak dalam
rahim seorang Ibu, lalu Allah menyempurnakannya dengan meniupkan Ruh kepadanya;
Ruhaniah berasal dari ALLAH. Itulah RUH yang bernama mukmin, tidak laki-laki
dan tidak perempuan, berada dalam dada laki-laki dan dalam dada perempuan; yang
tidak membedakan bangsa dan bahasanya.
Kejadian ini sama bagi setiap manusia di permukaan bumi ini.
Karena itulah Allah menyuruh manusia itu, berbuat baiklah kepada sesama
manusia, sebagaimana Allah berbuat baik kepada manusia itu sendiri.
Berdasarkan usul kejadian yang sama tersebut, maka Allah
melarang setiap manusia berburuk sangka.
BERBURUK SANGKA itu adalah dosa, maukah kamu memakan bangkai
saudaramu sendiri yang telah mati?
Apalagi membunuh seseorang, satu orang dibunuh sama hukumnya
dengan membunuh semua orang, satu orang kita benci sama dengan membenci semua
orang; satu orang kita berbuat baik sama dengan berbuat baik kepada semua
orang.
Begitulah Tuhan mengingatkan manusia agar manusia itu dapat
memahami bahwa manusia itu umat yang satu.
Oleh sebab itu, tidak ada satupun manusia berkehendak
dilahirkan di Amerika, Jepang, Cina, Arab, Belanda, Perancis, Inggris,
Indonesia pada umumnya, berbagai-bagai suku bangsa dengan berlainan bahasa.
Namun, BAHASA HATI TIDAK ADA YANG BERBEDA.
Itulah sebabnya, Allah tidak melihat rupamu dan amalmu;
Hanya ALLAH melihat pada HATIMU, YANG BERNIAT DALAM HATI ITU.
Yang berniat dalam hati itu, yang dilihat oleh Allah.
MANUSIA ITU UMAT YANG SATU, Tuhannya satu, agar tercapai
kehidupan manusia yang menyenangkan, kehidupan yang baik dan kehidupan yang
bermanfaat (bermakna).
Kesimpulan sebagai bahan pertimbangan:
Hendaklah setiap manusia mengenal dirinya melalui suara
hatinya masing-masing. Melalui kontrol suara hati tersebut, setiap manusia akan
memperoleh yang terbaik dalam kehidupan berkeluarga, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara dalam kesempatan berbicara-berucap-berlaku yang dapat menyenangkan
dirinya dan orang lain.
Seperti kata orang-orang terdahulu: "Pikir itu pelita
hati, tidak dipikir merusak diri, terlalu dipikir binasa diri".
Karena itu jangan cepat dikatakan itu salah atau benar,
mesti timbang RASA, rasa itu ditimbang,
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagi
kamu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagi kamu; dan
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui". Karena itu jangan
buru-buru berbuat sesuatu, renungkan dahulu, apa manfaat dan mudharatnya.
Melalui suara hati, musyarawah untuk mencapai mufakat itulah
yang tertinggi, guna memperoleh tercapainya perdamaian yg diingini oleh semua
Insan di permukaan bumi ini.
Demikian disampaikan sebagai bahan pertimbangan, guna
memperoleh kebenaran yang sesungguhnya.
Rujukan:
Firman Tuhan QS(3)6:
"Huwal ladzi yushawwirukum fil arhaa-mi kaifa yasyaa-u
laa ilaaha illaa huwal "aziizul hakim."
Artinya:
"DIALAH Yang membentuk kamu dalam rahim-rahim
sebagaimana yang DIA kehendaki. Tidak ada Tuhan melainkan DIA Yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana."
Firman Tuhan QS(32)9:
“Tsumma sawwahu wa nafakha fiihi mir ruuhihii wa ja’ala
lakumus sam’a wal abshaara wal af idata qaliilam maa tasykuruun."
Artinya:
“AKU SEMPURNAKAN KEJADIAN MANUSIA, Aku TIUPKAN RUH, Aku
berikan pendengaran, penglihatan, dan hati. Namun, sedikit sekali manusia
berterima kasih."
Firman Tuhan QS(49)10:
"Innamaal mu'minuuna ikhwatun fa-ashlihuu baina
akhawaikum waattaquullaha la'allakum turhamuun(a)."
Artinya:
"Sesungguhnya orang Mukmin (RUH) itu bersaudara, karena
itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya
kamu mendapat rahmat."
Firman Tuhan QS(49)11-12:
“Ya ayyuhal ladz'iina aamanuu laa yaskhar qaumum min qaumin
'asaa ay yakuunuu khairam minhum wa laa nisaaum min nisan-in 'asas ay yakunna
khairamminhunna wa laa talmizuu anfusakum wa laa tanaabazuu bil alqaabi bi'sal
ismul fusuuqu ba'dal iimaani wa mal lam yatub fa ulaa-ika humuzh zhaalimuun.
Yaa ayyuhal ladziina aamanuj tabibuu katsiiram minazh zhanni inna
ba'dhazhzhanni itsmuw wa laa tajassasuu wa laa yaghtab ba'dhukum ba'dhan a
yuhibbu ahadukum ay ya'kula lahma akhiihi maitan fa karihtumuuhu wat taqullaaha
innallaaha tawwaabur rahiim.”
Artinya: ayat 11
"Hai sekalian
orang-orang yang beriman, JANGANLAH SATU KAUM MENGOLOK-OLOKKAN KAUM YANG LAIN,
BOLEH JADI MEREKA (kaum yang mengolok-olokkan itu) LEBIH BAIK DARI MEREKA (YANG
MEPEROLOK-OLOKKAN), dan jangan (pula) perempuan-perempuan mengolok-olokkan
perempuan-perempuan (yang lain), boleh jadi perempuan-perempuan (yang
diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan), dan
janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan JANGANLAH KAMU PANGGIL-MEMANGGIL
DENGAN GELAR-GELAR YANG BURUK, seburuk-buruk Nama (panggilan) ialah PANGGILAN
FASIK SESUDAH BERIMAN. Dan BARANGSIAPA yang TIDAK BERTAUBAT, maka mereka itulah
ORANG YANG ZALIM.
Artinya ayat 12
Hai orang-orang yang beriman, JAUHILAH KEBANYAKAN PRASANGKA,
sesungguhnya SEBAHAGIAN PRASANGKA itu adalah DOSA. Dan JANGANLAH KAMU MENCARI
KEBURUKAN orang dan JANGANLAH sebahagian kamu MENGGUNJING atas sebahagian yang
lain. Adakah DI ANTARA KAMU MEMAKAN BANGKAI SAUDARA KAMU SENDIRI yang mati?
Maka kamu membencikannya. Dan BERTAQWALAH KEPADA ALLAH. Sesungguhnya Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Firman Tuhan QS(49)13:
“Yaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa untsaa
wa ja’alnaakum syu’uubaw wa qabaa-ila li ta’aarafuu inna akramakum ‘indallaahi
atqaakum innallaaha ‘aliimun khabiir.”
Artinya:
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami MENCIPTAKAN KAMU
DARI SEORANG LAKI-LAKI DAN SEORANG PEREMPUAN, dan Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya
SEMULIA-MULIA kamu DI SISI ALLAH ialah yang lebih TAQWA di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."
Firman Tuhan QS(21)92:
"Inna hadzihii
ummatukum ummataw waahidataw wa ana rabbukum fa'buduun."
Artinya: "Sesungguhnya manusia itu UMAT YANG SATU,
TUHANNYA SATU, maka SEMBAHLAH AKU."
Firman Tuhan QS(23)52:
"Wa inna haadzihii ummatukum ummataw waahidataw wa ana
rabbukum fat taquun."
Artinya: "Sesungguhnya manusia itu UMAT YANG SATU,
TUHANNYA SATU, maka bertaqwalah kepadaKu."
Dimana tempat menyembah dan bertaqwa kepada Allah pada
HAKEKATNYA?
Firman Tuhan QS(27)91:
"Innama umirtu an a'buda Rabba haa dzihil baldatil
ladzi harramahaa wa lahuu kullu syai-iw wa umirtu an akuuna minal
muslimin."
Artinya :
"Sesungguhnya AKU terperintah menyembah Tuhan di dalam
negeri yang terhormat yaitu BAITULLAH dan AKU masuk orang Islam di tempat
itu."
Bagaimana caranya? Dirikan SHALAT.
Firman Tuhan QS (2)125:
"Wa idz ja'alnal
Baita matsaabatal lin naasi wa annaw wat takhidzu mim maqaami Ibraahiima
mushallaw wa 'ahidnaa ilaa Ibraahiima wa Ismaa'iila an thahhiraa Baitiya lith
thaa-ifiina wal'akiifiina warrukka"is sujuud."
Artinya : "Dan ingatlah ketika KAMI menjadikan Rumah
itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, Dan
jadikanlah tempat itu menjadi tempat SHALAT. Dan telah Kami perintahkan kepada
IBRAHIM DAN ISMAIL, "Bersihkanlah Rumah-KU untuk orang-orang yang tawaf,
i'tikaf, rukuk dan sujud."
Apa syaratnya?
"Wa aqimush
shalata wa aatuz zakata wa athii-ur Rasuula la'alaikum turhamuun."
Artinya;
"Dan Dirikan Shalat, keluarkan zakat, ikut Rasul,
supaya kamu mendapat Rahmat."
Bagaimana hukumnya bila shalat tidak di BAITULLAH pada
hakekatnya?
Firman Tuhan QS(8)35:
"Wa maa kaana
shalaatuhum 'indal Baiti illaa mukaa-aw wa tashdiyatan fa dzuuqul 'adzabaa bi
maa kuntum takfuruun."
Artinya:
"Dan tidaklah
shalat mereka itu di Baitullah pada hakekatnya, lain tidak sama dengan
bersiul-siul dan bertepuk tangan atau bermain saja. Rasai siksa oleh karena
mereka itu kafir."
Demikianlah cara Allah mengurus "RUH" setiap
manusia dalam Islam.
Firman Tuhan QS(17)85:
"Wa yas-aluunaka
'anir ruuhi qulir ruuhumin amri rabbi wa maa uutiitum minal 'ilmi illa
qaliilaa."
Artinya: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang RUH,
katakanlah, "RUH" itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi
ilmu melainkan sedikit." (Bukan urusan science and technology/knowledge).
Demikian disampaikan sebagai bahan pertimbangan,
mudah-mudahan ada manfaatnya.
Sumber
RmaNews
































